MAKNA FILOSOFIS DIBALIK
FENOMENA PBM DI SEKOLAH MATA PELAJARAN FISIKA
TUGAS UAS
Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Disusun Oleh: Muh. Asriadi AM
Disusun Oleh: Muh. Asriadi AM
1.
Makna Filosofis dibalik Hukum Kekekalan Momentum.
Momentum adalah suatu benda
yang bergerak tidak hanya bergantung pada kelakuan (gerakan) benda saja, tetapi
juga bergantung pada massanya. Berdasarkan temuan, konsep kekekalan momentum
yang ditemukan oleh Descartes dapat diketahui bahwa konsep ini merujuk pada
beberapa aliran filsafat idealisme dan realisme
yang selanjutnya dikombinasikan menjadi aliran rasionalisme.
Adapun tiga
kajian filsafat pada konsep momentum yaitu:
a)
Dasar Ontologi Hukum Kekekalan Momentum.
Objek yang
dikaji dalam konsep ini adalah produk massa dan kecepatan yang selanjutnya
disebut sebagai momentum. Gagasan Decartes mengenai inersia berkembang menjadi
sebuah prinsip energi konservasi. Dasar pemikiran Decartes, mengenai energi
konservasi adalah prinsip kekekalan gerak, yang mana seluruh jagat raya dibuat
sama oleh mekanisme gerakan yang kekal. Selagi sebuah objek sudah berjalan,
maka objek tersebut akan terus berjalan hingga ada paksaan eksternal yang mengganggu.
Oleh sebab itu, Decartes berpendapat bahwa bumi, planet, matahari yang bergerak
akan terus bergerak. Dari sini Descartes mengembangkan temuannya dengan
menumbukkan benda yang bergerak, dan ditemukan konsep hukum kekekalan momentum.
Menunjukkan bahwa momentum benda sesaat sebelum tumbukkan sama dengan momentum
benda setelah melakukan tumbukan.
b)
Dasar Epistemologi Hukum Kekekalan Momentum.
Tinjauan
epistemologi berkaitan dengan “Bagaimana ilmu tersebut bisa ada?”. Dalam hal
ini, konsep momentum bisa ada berdasarkan pernyataan Descartes yang
memperkenalkan bahwa besaran benda yang bergerak harus bergantung pada karakter
yang mengikuti pada benda (kelakuan benda). Selain bergantung pada kecepatan,
besaran juga bergantung pada massa. Konsep ini dikemukakan oleh Decartes karena
filsafat pada zaman itu beranggapan bahwa jagat raya digerakkan oleh mekanisme
penggerak yang kekal. Suatu benda yang bergerak akan tetap bergerak tanpa ada
faktor eksternal yang mempengaruhi.
Gagasan yang
dikemukakan oleh Decartes juga berangkat dari percobaan yang dilakukan oleh
Galileo atas bantahan terhadap pernyataan Aristoreles. Aristoteles menyatakan
bahwa benda yang lebih berat akan jatuh terlebih dahulu dibandingkan benda yang
lebih ringan. Galileo membantah pernyataan tersebut dengan melakukan uji coba
di menara pisa. Dengan menjatuhkan dua benda yang massanya sama dan dijatuhkan
pada ketinggian yang sama, ternyata waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke
permukaan tanah adalah sama. Tetapi, diduga bahwa benda yang lebih berat menghantam
permukaan tanah menyebabkan kerusakan yang besar dibandingkan dengan benda yang
bermassa lebih ringan. Dari sini, Decartes mendefisnisikan bahwa besaran dari
suatu benda yang bergerak tidak bergantung pada kecepatannya saja, tetapi juga
bergantung pada massanya. Besaran ini dinyatakan sebagai hasil kali kecepatan
dan massa benda. Total besaran ini harus berada di ruang yang terisolasi.
c)
Dasar Aksiologi Hukum Kekekalan Momentum.
Pembahasan terkait dasar
aksiologi adalah mengenai bagaimana manfaat dari konsep yang diaplikasikan di
dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari konsep momentum telah banyak
dikembangkan menjadi teori yang lebih kompleks. Kajian teoritis konsep momentum
menjadi pijakan untuk mendalami materi yang lebih lanjut. Salah satunya dalam
membahas kajian mengenai fisika modern, efek fotolistrik, dan tinjauan
relativitas. Di sisi lain, penerapan dari konsep momentum telah menghasilkan
berbagai produk yang berguna bagi masyarakat. Misalnya, aplikasi momentum dalam
alat-alat pertahanan, seperti peluru dan meriam. Aplikasi momentum dalam
pengembangan kendaraan.
2.
Makna Filosofis dibalik Hukum Newton
Hukum Newton adalah suatu aturan yang mengatur tentang
gerak yang ditinjau secara makroskopik. Dalam tinjuaan fisika hukum newton
masuk dlam kajian fisika klasik. Jika dilihat dari bagaimana cara menggabungkan
realitas apel, serta konsep yang dibangun oleh galileo galilei maka nampak
sekali perpaduan antara realitas materi dan ide yang dipakai oleh newton dalam
membangun konsep gravitasi, maka aliran empirisme sangat cocok dengan penemuan
ini.
a)
Dasar ontologi
hukum Newton
Objek telaah
dari hukum Newton ada dua yaitu objek
material dan objek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran
penyelidikan, seperti Objek kajian dalam hukum Newton adalah sebuah benda
bermassa yang berada dijagad raya. Hal ini mencangkup semua benda, baik planet,
manusia maupun benda-benda lainnya. Adapun obyek formalnya merupakan metode
untuk memahami obyek material tersebut, yaitu dengan menggunakan pendekatan
induktif.
b)
Dasar
Epistimologi Hukum Newton
Langkah dalam epistemologi hukum
Newton antara lain berpikir induktif dengan mengkaji pengetahuan-pengetahuan
sebelumnya seperti Gallilei Gallileo yaitu Pengetahuan a posteriori adalah
pengetahuan setelah pengalaman (diperoleh dari pengalaman) berupa observasi dan
eksperimen. Hukum Newton
tentang gravitasi adalah hukum yang membahas tentang gaya tarik-menarik antara
benda yang dipengaruhi oleh massa serta jaraknya. Berdasarkan kisah yang
diabadikan sejarah, Hukum
Gravitasi diperoleh Newton ketika sebuah apel jatuh ke kepalanya sewaktu ia
sedang merenungi masalah di bawah sebuah pohon apel di pekarangan rumahnya.
c) Dasar
Aksiologi Hukum Newton
Aksiologi
membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang
didapatkannya. Melalui pengetahuan Hukum Newton ini banyak manfaat yang
diperoleh manusia diantaranya yaitu :
untuk
Menghitung Satelit, menghitung
Kecepatan Satelit Menggunakan Hukum Gravitasi, Menghitung Jarak Orbit Satelit Menghitung.
3.
Makna Filosofis dibalik Hukum
Pascal
Hukum pascal mengkaji tentang
hidrodinamika. Hukum Pascal menyatakan bahwa Tekanan yang diberikan
zat cair dalam ruang tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar. Berdasarkan
temuan konsep fisika yang dilakukan oleh Pascal dipengaruhi aliran filsafat
yang mempengaruhi adalah aliran filsafat idelisme, realisme, dan empirisme.
Ada
tiga kajian filsafat pada konsep pascal:
a)
Dasar ontologi Hukum Pascal
Objek telaah dari hukum pascal ada dua
yaitu objek material dan objek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran
penyelidikan, seperti fluida. Adapun
obyek formalnya merupakan metode untuk memahami obyek material tersebut,
seperti pendekatan induktif dan deduktif. Dalam perspektif ini dapat penulis
uraikan bahwa hukum pascal pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif (Fakta
dan kebenaran)
Ø Fakta
Objek
kajian dalam hukum pascal merupakan fakta. Fakta adalah pengamatan yang telah diverifikasi secara
empiris. Fakta dalam prosesnya kadang kala
dapat menjadi sebuah ilmu namun juga sebaliknya.
Ø Kebenaran
Kebenaran
hukum pascal sudah terbukti secara korespondensi, koherensi, performatif,
pragmatic, dan proposisi. Hukum
pascal merupakan suatu kebenaran karena bunyi hukum tersebut/teori pascal telah
tebukti secara ilmiah dan sesuai dengan keadaan alamiah sutau benda.
b)
Dasar Epistimologi Hukum pascal
Langkah dalam epistemologi hukum
pascal antara lain berpikir deduktif dan induktif. Hukum pascal adalah hukum
yang membahas tentang perilaku fluida dalam ruangan tertutup bila diberi
tekanan. Berdasarkan
kisah yang diabadikan sejarah, pascal memiliki sebuah replika percobaan yang
berupa tabung sepanjang 31 inci (78,7 cm) yang diisi air raksa yang diposisikan
terbalik dalam sebuah mangkok mercuri. Pascal ingin mengetahui kekuatan apa yang menjaga mercuri
dalam tabung, dan apa yang mengisi ruang kosong dibagian atas dalam tabung
mercuri tersebut. Apakah berisi: udara? uap air raksa? kehampaan? Pada waktu
itu, kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa ruang kosong ditabung atas mercuri
tersebut adalah tak lebih daripada vacuum ( kosong ), dan beberapa kejadian
yang dianggap tak mungkin oleh ilmuwan sebelumnya, telah terlihat saat
percobaan itu dilakukan.
c)
Dasar Aksiologi Hukum Pascal
Ada banyak dasar aksiologi dari hukum
pascal yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan manusia, karena tujuan diciptakannya hukum pascal ini adalah untuk
memberikan manfaat dan kemudahan dalam kehidupan manusia. Beberapa diantara
aplikasi hukum pascals yang mempermudah manusia antara lain: dongkrak hidrolik
dan pompa hidrolik. Kesemuanya itu merupakan nilai aksiologi hukum pascal.Hukum
pascal bukan hanya sebua teori kontekstual namun memiliki banya nilai aplikatif
yang menjadikan alasan yang kuat bahwa pernyataan pascal merupakan suatu hukum
dan bagian dari ilmu penegetahuan yang telah terbukti secara empiris.
4.
Makna Filosofis dibalik Hukum Archimedes
Hukum Archimedes membahas
tentang subtansi yang dimiliki suatu benda. Archimedes telah menemukan sebuah
prinsip, bahwa tingkat kemurnian substasi adalah sama di manapun substansi
berada. Setiap penambahan kedalam substansi tersebut akan mengubah berat
keseluruhan. Tumpahan air merupakan cara sederhana untuk mengetahui hal
tersebut. Berdasarkan temuan konsep fisika yang dilakukan oleh Archimedes
aliran filsafat yang mempengaruhi adalah aliran filsafat empirisme dan
realisme. Aliran filsafat empirisme mencoba memaparkan bahwa pengetahuan
bersumber dari pengalaman. Oleh karena itu pengalaman Archimedes menjadi sumber
pengetahuan juga yaitu menemukan konsep Archimedes tersebut. Sedangkan, aliran
filsafat realisme anggapan bahwa obyek indera kita adalah real,
benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita
ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Karena
itu fenomena yang terjadi pada air ketika Archimedes mencelupkan badannya
dan berubah ketinggian merupakan suatu keadaan yang real.
Ada
tiga kajian filsafat pada konsep Archimedes:
a) Dasar
ontologi hukum Archimedes
Objek telaah dari hukum archimedes ada dua yaitu objek
material dan objek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran
penyelidikan, seperti fluida, dan massa jenis adalah obyek material hukum
archimedes. Adapun obyek formalnya merupakan metode untuk memahami obyek
material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Dalam perspektif
ini dapat penulis uraikan bahwa hukum Archimedes pada prinsipnya memiliki dua
obyek substantif (Fakta dan kebenaran)
1) Fakta
Objek
kajian dalam hukum Archimedes merupakan fakta. Fakta adalah pengamatan yang
telah diverifikasi secara empiris. Fakta dalam prosesnya kadang kala dapat
menjadi sebuah ilmu namun juga sebaliknya. Fakta tidak akan dapat menjadi
sebuah ilmu manakala dihasilkan secara random saja. Namun bila dikumpulkan
secara sistematis dengan beberapa system serta dilakukan secara sekuensial,
maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah hukum atau bahkan ilmu. Fakta atau
kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang
filosofis yang melandasinya. Contoh fakta yang dikaji atau dibahas dalam hukum
Archimedes adalah seperti tumpahnya air dalam baskom yang penuh ketika
dimasukkan suatu benda.
2) Kebenaran
Kebenaran
hukum Archimedes sudah terbukti secara korespondensi, koherensi, performatif,
pragmatic, dan proposisi. Hukum Archimedes merupakan suatu kebenaran karena
bunyi hukum tersebut/teori Archimedes telah tebukti secara ilmiah dan sesuai
dengan keadaan alamiah sutau benda. Berikutnya keterhubungan antar objek kajian Archimedes
dengan hukum Archimedes itu sendiri adalah dapat dilihat pada penjelasan bagian
A dimana pada bagian A telah dijelaskan bahwa antara gaya apung, massa jenis,
volume zat cair yang dipindahkan dan percepatan gravitasi dapat dihubungkan
melalui persamaan Fa=ρ g v.
b) Dasar
Epistimologi Hukum Archimedes
Epistemologi
dapat didefenisikan juga sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula
atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. Hukum
Archimedes adalah hukum yang membahas tentang perilaku suatu benda yang
mengalami gaya ketas ketika berada dalam suatu fluida. Berdasarkan kisah yang
diabadikan sejarah, Archimedes menemukan hukum gaya apung/Archimedes ketika ia
diperintahkan oleh raja untuk menguji mahkota kebesaran raja, apakah terbuat
dari emas atau tidak. Arhimedes
secara alami akhirnya mengetahui penyelesaian permasalahan tersebut dengan
kembali ke alam. Ia berpikir secara alami dengan berendam disebuah bak yang
penuh dengan air kemudian terlihatlah olehnya ada beberapa air yang tertumpah.
Perilaku air yang seperti ini merupakan perilaku alami yang dapat dipahami oleh
Archimedes bahwa air yang tumpah tersebut tidak lain adalah sama dengan volume
tubuhnya. Dan pada akhirnya menarik kesimpulan secara matematis bahwa Fa=ρ
g v.
c) Dasar
Aksiologi Hukum Archimedes
Ada banyak dasar aksiologi dari hukum archimedes yang
sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, karena tujuan diciptakannya hukum
archimedes ini adalah untuk memberikan manfaat dan kemudahan dalam kehidupan
manusia. Beberapa diantara aplikasi hukum archimedes yang mempermudah manusia
antara lain: pembuatan kapal selam dan kapal laut. Kesemuanya itu merupakan
nilai aksiologi hukum archimedes. Hukum archimedes bukan hanya sebua teori
kontekstual namun memiliki banya nilai aplikatif yang menjadikan alasan yang
kuat bahwa pernyataan archimedes merupakan suatu hukum dan bagian dari ilmu
penegetahuan yang telah terbukti secara empirik.
5.
Makna Filosofis
dibalik Relativitas Khusus
Relativitas khusus menunjukkan bahwa jika dua
pengamat berada dalam kerangka acuan lembam dan
bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua
pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah
mereka bergerak atau diam. Relativitas
khusus adalah teori mengenai struktur ruang-waktu. Berdasarkan objek kajian tersebut Relativitas khusus masuk pada kajian filsafat fisika dalam aliran empirisme. Kerena ruang dan
waktu merupakan materi yang dikaji secara indrawi melalui metode ilmiah.
Adapun tiga
kajian filsafat pada relativitas khusus yaitu:
a)
Dasar Ontologi Relativitas Khusus.
Objek yang
dikaji dalam relativitas
khusus ini adalah gerak suatu partikel dalam dimensi
ruang dan waktu. Gagasan Albert
Einstein mengenai Relativitas khusus menggantikan pendapat Newton
tentang ruang dan waktu dan memasukan elektromagnetisme sebagaimana
tertulis oleh persamaan
Maxwell. Teori ini disebut "khusus" karena dia berlaku terhadap prinsip relativitas pada
kasus "tertentu" atau "khusus" dari rangka referensi
inertial dalam ruang waktu
datar, di mana efek gravitasi dapat
diabaikan.
b)
Dasar Epistemologi Relativitas Khusus.
Tinjauan
epistemologi berkaitan dengan “Bagaimana ilmu tersebut bisa ada?”. Dalam hal
ini, konsep relativitas
khusus bisa ada berdasarkan pernyataan Gelombang
elektromagnetik dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa
dipengaruhi gerakan sang pengamat. Inti pemikiran dari kedua teori ini adalah
bahwa dua pengamat yang bergerak relatif terhadap masing-masing akan
mendapatkan waktu dan
interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama, tetapi isi hukum fisika
akan terlihat sama oleh keduanya. Konsep ini
dikemukakan oleh Einstein karena filsafat pada zaman itu beranggapan bahwa
jagat raya digerakkan oleh mekanisme penggerak yang kekal. Suatu benda yang bergerak akan tetap bergerak
tanpa ada faktor eksternal yang mempengaruhi.
c)
Dasar Aksiologi Relativitas Khusus.
Pembahasan terkait dasar aksiologi adalah mengenai
bagaimana manfaat dari konsep yang diaplikasikan di dalam kehidupan
sehari-hari. Aplikasi dari Relativitas Khusus telah banyak dikembangkan menjadi teori yang lebih
kompleks. Kajian teoritis konsep Relativitas Khusus menjadi pijakan untuk mendalami materi yang lebih lanjut. Salah satunya
dalam membahas kajian mengenai fisika modern, elektomagnetik, dan navigasi. Salah manfaat
dari Relativitas
Khusus yang paling banyak digunkan oleh manusia saat ini yaitu
GPS (Global Position System) dan Televisi.
6.
Makna Filosofis
dibalik Hukum Termodinamika
Termodinamika (berasal
dari kata thermos (panas) dan dynamic (gerak atau perubahan)) adalah salah satu
cabang dari ilmu fisika yang mempelajari panas dan
temperatur, serta hubungan keduanya pada energi dan gerak. Inti dari pembahasan
termodinamika adalah bagaimana energi dalam bentuk panas dapat mengalir dari
satu benda ke benda lain, proses dari aliran energi tersebut, dan akibat yang
dihasikan oleh perpindahan energi tersebut. Berdasarkan objek kajian
tersebut termodinamika masuk pada kajian filsafat
fisika dalam aliran empirisme.
Adapun tiga
kajian filsafat pada termodinamika yaitu:
a)
Dasar Ontologi Termodinamika.
Objek yang
dikaji dalam relativitas
khusus ini adalah panas dan temperatur, serta hubungan keduanya pada energi
dan gerak. Hukum termodinamika
kebenarannya sangat umum, dan hukum-hukum ini tidak bergantung kepada rincian
dari interaksi atau sistem yang diteliti. Ini berarti mereka dapat diterapkan
ke sistem di mana seseorang tidak tahu apa pun kecuali perimbangan transfer
energi dan wujud di antara mereka dan lingkungan. Contohnya termasuk perkiraan
Einstein tentang emisi spontan dalam abad
ke-20 dan riset sekarang ini tentang termodinamika
benda hitam
b)
Dasar Epistemologi Termodinamika.
Tinjauan
epistemologi berkaitan dengan “Bagaimana ilmu tersebut bisa ada?”. Dalam hal
ini, konsep termodinamika bisa ada berdasarkan Pada sistem tempat terjadinya proses perubahan
wujud atau pertukaran energi, termodinamika klasik tidak berhubungan
dengan kinetika reaksi (kecepatan
suatu proses reaksi berlangsung). Karena itu, penggunaan istilah
"termodinamika" biasanya merujuk pada termodinamika setimbang, yang
mana konsep utamanya adalah proses kuasistatik, yang
diidealkan. Sementara itu, termodinamika bergantung-waktu adalah termodinamika
tak-setimbang. Pengabstrakkan dasar atas termodinamika adalah
pembagian dunia menjadi sistem dibatasi oleh kenyataan atau ideal dari batasan.
Sistem yang tidak termasuk dalam pertimbangan digolongkan sebagai lingkungan.
Dan pembagian sistem menjadi subsistem masih mungkin terjadi, atau membentuk
beberapa sistem menjadi sistem yang lebih besar. Biasanya sistem dapat
diberikan keadaan yang dirinci dengan jelas yang dapat diuraikan menjadi beberapa
parameter. Dari prinsip-prinsip dasar termodinamika secara umum bisa diturunkan
hubungan antara kuantitas misalnya, koefisien ekspansi, kompresibilitas, panas
jenis, transformasi panas dan koefisien elektrik, terutama sifat-sifat yang
dipengaruhi temperatur.
c)
Dasar Aksiologi
Termodinamika.
Pembahasan terkait dasar aksiologi adalah mengenai
bagaimana manfaat dari Termodinamika yang
diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari Termodinamika telah banyak dikembangkan menjadi teori yang lebih kompleks.. Salah
satunya dalam membahas kajian mengenai fisika modern, elektomagnetik, dan navigasi. Salah manfaat
dari Termodinamika yang paling banyak digunkan oleh manusia saat ini yaitu mesin
pemanas, mesin pendingin, termos air, dan mesin kendaraan.
7.
Makna Filosofis
dibalik Hukum Faraday
Hukum Faraday adalah Hukum dasar
Elektromagnetisme yang menjelaskan bagaimana arus listrik menghasilkan medan
magnet dan sebaliknya bagaimana medan magnet dapat menghasilkan arus listrik
pada sebuah konduktor. Berdasarkan objek kajian
tersebut Hukum Faraday masuk pada kajian
filsafat fisika dalam aliran empirisme.
Adapun tiga
kajian filsafat pada hukum
faraday yaitu:
a)
Dasar Ontologi Hukum
Faraday.
Objek yang
dikaji dalam hukum ini adalah listrik dan medan magnet, serta hubungan keduanya. Gagasan faraday mengenai medan magnet dibuktikan dalam percobaanya
mengunkaan galvanometer, kumparan dan sebuah magnet.
b)
Dasar Epistemologi Hukum
Faraday.
Tinjauan
epistemologi berkaitan dengan “Bagaimana ilmu tersebut bisa ada?”. Dalam hal
ini, konsep hukum faday bisa ada berdasarkan ekeprimen
yang dilakukan oleg michel faday. Michael Faraday mengambil sebuah
magnet dan sebuah kumparan yang terhubungkan ke galvometer. Pada awalnya,
magnet diletakkan agak berjauhan dengan kumparan sehingga tidak ada defleksi
dari galvometer. Jarum pada galvometer tetap menunjukan angka 0. Ketika magnet
bergerak masuk ke dalam kumparan, jarum pada galvometer juga bergerak
menyimpang ke satu arah tertentu (ke kanan). Pada saat magnet didiamkan pada
posisi tersebut, jarum pada galvometer bergerak kembali ke posisi 0. Namun
ketika magnet digerakan atau ditarik menjauhi kumparan, terjadi defleksi pada
galvometer, jarum pada galvometer bergerak menyimpang berlawanan dengan arah
sebelumnya (ke kiri). Pada saat magnet didiamkan lagi, jarum pada galvometer
kembali ke posisi 0. Demikian juga apabila yang bergerak adalah Kumparan,
tetapi Magnet pada posisi tetap, galvometer akan menunjukan defleksi dengan
cara yang sama. Dari percobaan Faraday tersebut juga ditemukan bahwa
semakin cepat perubahan medan magnet semakin besar pula gaya gerak listrik yang
diinduksi oleh kumparan tersebut.
c)
Dasar Aksiologi
Hukum Faraday.
Pembahasan terkait dasar aksiologi adalah mengenai
bagaimana manfaat dari. Salah satunya dalam membahas kajian mengenai elektonika,
medang maganet, Salah satu manfaat hukum faday yaitu mesin pembangkit listrik
atau kita kenal sebagai generator.
8.
Makna Filosofis dibalik Literasi
Menurut UNESCO (The United Nations Educational,
Scientific and Cultural Organization), arti literasi adalah seperangkat
keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis, yang terlepas dari
konteks yang mana ketrampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa literasi adalah kemampuan dalam berkomunikasi dalam memahami dan
menyampaikan gagasan yang bisa dilihat secara nyata. Berdasarkan kajian
tersebut aliran filsafat dari literasi adalah empirisme dan realisme.
a) Dasar Ontologi Literasi
Literasi membatasi diri hanya pada kejadian
yang bersifat empiris, mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh
pancaindera manusia atau yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan
mempergunakan pancainderanya. Dengan demikian obyek literasi adalah
dunia pengalaman indrawi. Literasi mengkaji kemampuan menggunakan pengetahuan
ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti
yang ada, sehingga dapat memahami dan membuat keputusan berkaitan dengan alam
dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia.
b) Landasan
Epistemologi
Epistemologi atau teori pengetahuan,
membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha kita
memperoleh pengetahuan.
Literasi merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Ilmu lebih bersifat kegiatan dinamis tidak statis. Setiap kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan, adalah sah disebut keilmuan.
Literasi merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Ilmu lebih bersifat kegiatan dinamis tidak statis. Setiap kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan, adalah sah disebut keilmuan.
c) Landasan Aksiologi
Manfaat literasi dalam kehidupan manuasia
yaitu mampu memahami kehidupan dan bisa berintrraksi dengan manusia yang
lainnya. Selain itu menambah
perbendaharaan kata (kosa kata) seseorang, mengoptimalkan
kinerja otak karena sering digunakan untuk kegiatan membaca dan menulis, mendapat
berbagai wawasan dan informasi baru, Kemampuan
interpersonal seseorang akan semakin baik, dan kemampuan
memahami makna suatu informasi akan semakin meningkat.
9.
Makna Filosofis dibalik Sains
Sains
adalah serapan dari kata Bahasa Inggris Science yang diambil dari Bahasa Latin
Sciencia yang berarti Pengetahuan (Poedjiadi, 2010). Sains berkaitan dengan cara mencari tahu
tentang alam secara sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan
pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja
tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas dalam Mahyuddin, 2007). Berdasarkan kajian tersebut aliran filsafat dari
literasi adalah empirisme.
a)
Dasar Ontologi
Sains
Dalam kajian ontologis, objek dibahas dari keberadaannya
mencakup lingkup batas jati diri (being) dan keberadaan eksistensi
penelaahan objek (sasaran) keilmuan serta penafsiran tentang hakekat
(kenyataan) yang khas dari objek keilmuan, guna membentuk konsep tentang objek
(alam nyata, baik universal ataupun spesifik). Objek kajian dari siains adalah
alam dan segala yang ada didalamnya. Beberapa contoh pertanyaan yang merupakan persoalan ontologi
misalnya apa eksistensi dari zat padat? Apa itu sel? Bagaimana penjelasan
elektronik, termodinamika atau hukum gravitasi?
b)
Dasar Epistemologi Sains
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Secara
rasional, sains menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, dan
secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak
sehingga terjadi penyempurnaan teori atau paradigma yang akhirnya membawa ilmu
tersebut menjadi sains normal. Contoh dari
epistemologi ilmu dibahas dalam materi sains normal.
c)
Dasar aksiologi
Sains
Aksiologi
menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat sains dalam kehidupan yaitu
mampu memecahkan permasalah manusia. Dapat membantu meningkatkan taraf hidup
manusia. Adapun manfaat sains secara lebih spesifik:
1. Menimbulkan rasa ingin tahu terhadap
kondisi lingkungan alam.
2. Memberikan wawasan akan konsep alam
yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
3. Ikut menjaga, merawat, mengelola,
dan melestarikan alam
4. Mempunyai kemampuan untuk
mengembangkan ide-ide mengenai lingkungan alam disekitar.
5. Konsep yang ada dalam Ilmu
Pengetahuan Alam berguna untuk menjelaskan berbagai peristiwa-peristiwa alam
dan menemukan cara untuk memecahkan permasalahan tersebut.
6. Membangun rasa cinta terhadap alam
yang telah di ciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
7. Menyadari pentingnya peran alam
dalam kehidupan sehari-hari.
8. Dapat memberikan pengetahuan tentang
teknologi dan dampak serta hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari.
9. Memberikan Pengetahuan untuk
mengetahui perkembangan makhluk hidup dari zaman ke zaman.
10. Memberikan pengetahuan tentang
perkembangan proses penciptaan alam semesta hingga seperti saat ini.
11. Membantu manusia dalam pengembangan
IPTEK
10. Makna Filosofis dibalik Berfikir Kritis
Michael Scriven & Richard Paul
menjelaskan bahwa berpikir kritis melibatkan proses yang secara aktif dan penuh
kemampuan untuk membuat konsep, menerapkan, menganalisis, menyarikan, dan
mengamati sebuah masalah yang diperoleh ataupun diciptakan dari pengamatan,
pengalaman, komunikasi dan lain sebagainya. Selain itu chance mengungkapkan
berfikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisa fakta yang ada kemudian
membuat beberapa gagasan dan mempertahankan gagasan tersebut kemudian membuat
perbandingan untuk menemukan sebuah solusi dari permasalahan yang ada. Berfikir
Kritis masuk dalam kajian filsafat pendidikan. Aliran filsafat dari berfikir kritis adalah rasionalisme
dan kritisisme kerena objek kajian dari berfikir kritis adalah pengetahuan
manusia yang sejalan dengan nalar atau logika manusia.
a)
Dasar Ontologi
Berfikir Kritis
Dalam kajian ontologis, objek kajian
berfikir kritis adalah pengetahuan manusia. Berfikir kiritis diperoleh
berdasarka naluri berpikir yang dimilki manusia terhadap sesuatu permasalahan.
b)
Dasar Epistemologi Berfikir
Kritis
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Berpikir
adalah proses otak melakukan pengumpulan dan analisa informasi, dimana kumpulan
semua informasi ini misalnya dibutuhkan dalam membuat keputusan, membuat
konsep, melakukan penalaran, serta membuat pemecahan suatu masalah. Secara
rasional, berfikir kritis berarti menemukan
kesimpulan dan keputusan yang informatif, bermanfaat, serta dapat
dipertanggungjawabkan. Karena keputusan dan kesimpulan tersebut diperoleh dari
analisis berbagai pendapat, asumsi, serta ide yang beragam dan bermacam-macam.
c)
Dasar Aksiologi
Berfikir Kritis
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat berfikir kritis dalam kehidupan yaitu 1)
Memiliki banyak alternatif jawaban dan ide kreatif, 2) Mudah memahami sudut
pandang orang lain, 3) Menjadi rekan kerja yang baik, 4) Lebih Mandiri, 5)
Sering menemukan peluang baru, 6) Meminimalkan salah persepsi pada saat
mengabil keputusan.
11. Makna Filosofis dibalik Berfikir Kreatif
Johnson (2009: 183) menyatakan bahwa berpikir kreatif adalah
kegiatan mental
yang memupuk ide-ide asli dan pemahaman-pemahaman yang baru. Johnson menambahkan bahwa berpikir kreatif
merupakan sebuah kebiasaan dari pikiran yang dilatih dengan memperhatikan
intuisi, menghidupkan imajinasi, mengungkapkan kemugkinan kemungkinan baru,
membuat sudut pandang yang menakjubkan, serta membangkitkan ide-ide yang tidak
terduga. Aliran filsafat dari berfikir kreatif adalah rasionalisme dan progresivisme
kerena objek kajian dari berfikir kreatif adalah pengetahuan manusia yang
sejalan dengan nalar.
a)
Dasar Ontologi
Berfikir Kreatif
Dalam kajian
ontologis, objek kajian berfikir kreatif adalah pengetahuan manusia. Berpikir
pada umumnya didefinisikan sebagai proses mental yang dapat menghasilkan
pengetahuan. Kreatif didasari pada kemampuan seseorang untuk menciptakan ide atau gagasan baru
sehingga membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagi tujuan dalam
hidupnya.
b)
Dasar Epistemologi Berfikir
Kreatif
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Berpikir adalah suatu kegiatan akal
untuk mengolah pengetahuan yang telah diperoleh melalui indra dan ditujukan
untuk mencapai kebenaran. Secara rasional, berfikir kreatif
berarti kegitan mengelola pengetahun untuk menemukan seperangkat ide yang
bermanfaat bagi kehidupan. Berpikir kreatif sebagai kemampuan
umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan
gagasangagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai
kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah
ada sebelumnya.
c)
Dasar Aksiologi
Berfikir Kreatif
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat berfikir kreatif dalam kehidupan yaitu membuat
hidup lebih indah, meningkatkan
apresiasi terhadap ide orang lain, meningkatkan
motivasi dan semangat hidup, dan meningkatkan
kualitas dan Taraf hidup manusia.
12. Makna Filosofis dibalik Berfikir Inovatif
Inovasi merupakan sebuah temuan baru baik dalam
bentuk ide, barang atau jasa yang berbeda dari sebelumnya dari segi bentuk, kreasi atau
substansi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997: 381) Inovasi diartikan
sebagai penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal
sebelumnya, misalnya gagasan, metode atau alat. Soemanto (1980: 62) juga mengungkpakan bahwa
Inovasi merupakan suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara barang-barang
buatan manusia, yang diamati dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang
atau kelompok orang (masyarakat). Oleh karena itu inovasi pendidikan sangat
perlu. Aliran filsafat dari berfikir inovatif adalah progesivisme. Aliran Progresivisme dapat diartikan secara umum sebagai aliran
yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat..
a)
Dasar Ontologi
Berfikir Inovatif
Dalam kajian
ontologis, objek kajian berfikir inovatif adalah pengetahuan manusia. berpikir sebagai segala aktivitas
mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan,
atau memenuhi keinginan untuk memahami; berpikir adalah sebuah pencarian
jawaban, sebuah pencapaian makna. Inovatif didasari pada kemampuan untuk menciptakan
gagasan-gagasan baru dan orisinil.
b)
Dasar Epistemologi Berfikir
Inovatif
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Secara
rasional, berfikir inovatif berarti kemampuan individu untuk memikirkan apa yang telah
dipikirkan semua orang, sehingga individu tersebut mampu mengerjakan apa yang
belum pernah dikerjakan oleh semua orang.
c)
Dasar aksiologi
Berfikir Inovatif
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat berfikir inovatif dalam kehidupan yaitu:
meningkatkan produktivitas & mengurangi biaya, Kualitas yang lebih baik,
Menciptakan berbagai produk baru, dan memberikan nilai tambah.
13. Makna Filosofis dibalik Berfikir Efektif
Berfikir Efektif adalah cara berfikir dengan
menggunakan kreatifitas (mengumpulkan, memilih, dan mengkombinasikan beberapa
alternatif) agar diperoleh hasil yang maksimal. Berfikir Efektif adalah
cara berfikir yang berorientasi ke Hasil (misalnya fokus ke hasil yang
maksimal, menyelesaikan masalah secara akurat, langsung ke inti persoalan).
Yang dimaksud berfikir efektif disini adalah cara berpikir seorang individu
yang dapat berdampampak baik dan menimbulkan kesan yang positif. Aliran filsafat dari berfikir efektif adalah progesivisme.
Aliran Progresivisme dapat diartikan secara umum sebagai aliran
yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat.
a)
Dasar Ontologi
Berfikir Efektif
Dalam kajian ontologis, objek kajian
berfikir efektif adalah pengetahuan manusia. efektif didasarkan pada tercapainya
berbagai sasaran yang ditentukan tepat pada waktunya dengan menggunakan
sumber-sumber tertentu yang sudah dialokasikan untukmelakukan kegiatan
tertentu.
b)
Dasar Epistemologi Berfikir
Efektif
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Secara
rasional, berfikir efektif berarti berfikir untuk mengerjakan pekerjaan yang benar. Efektivitas
secara umum menunjukkan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang
terlebih dahulu ditentukan.
c)
Dasar aksiologi
Berfikir Efektif
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat berfikir efektif dalam kehidupan yaitu dapat mencapai tujuan yang maksimal
dari apa yang di harapkan.
14. Makna Filosofis dibalik Berfikir Efisien
Berfikir efisien adalah cara
berfikir yang berorientasi ke Proses (misalnya fokus ke waktu yang lebih cepat,
energi yang lebih sedikit, dan biaya yang lebih murah. kata “efisien” bisa diartikan dengan “mampunya
melakukan sesuatu dengan tepat, cermat dan berdaya guna (memiliki arti
(manfaat) dan memiliki nilai). Atau kata “efisien” bisa diartika juga dengan
“tepatnya atau kesesuaian dalam mengerjakan (menghasilkan) sesuatu dengan tidak
membuang-buangnya waktu, tenaga, biaya, dan lain-lain lagi yang bernilai”.
Jadi, dari penjelasan di atas maka pengertian berpikir efisien dapat diartikan
dengan “menggunakan akal kita untuk menimbang sesuatu atau memilih sesuatu
dengan tepat dan cermat, juga harus memiliki daya guna yang tinggi, dalam
artian sangat bermanfaat dan berguna dari hasil kegiatan berpikir kita
tersebut. Aliran filsafat dari berfikir efektif adalah progesivisme. Aliran Progresivisme dapat diartikan secara umum sebagai aliran
yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat.
a)
Dasar Ontologi
Berfikir Efisien
Dalam kajian
ontologis, objek kajian berfikir efisien adalah pengetahuan manusia. berpikir”
adalah memerankannya akal kita untuk melakukan dan memilih sesuatu, itu bisa
dinamakan dengan berpikir. Efesien bisa diartikan dengan “mampunya melakukan
sesuatu dengan tepat, cermat dan berdaya guna (memiliki arti (manfaat) dan
memiliki nilai). Atau kata “efesien” bisa diartika juga dengan “tepatnya atau
kesesuaian dalam mengerjakan (menghasilkan) sesuatu dengan tidak
membuang-buangnya waktu, tenaga, biaya, dan lain-lain lagi yang bernilai.
b)
Dasar Epistemologi Berfikir
Efisien
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Secara
rasional, berfikir efisien berarti menggunakan akal kita untuk menimbang sesuatu atau memilih
sesuatu dengan tepat dan cermat, juga harus memiliki daya guna yang tinggi,
dalam artian sangat bermanfaat dan berguna dari hasil kegiatan berpikir kita
tersebut.
c)
Dasar aksiologi
Berfikir Efisien
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat berfikir efisien dalam kehidupan yaitu dapat
membantu menghemat biaya tenaga atau pun waktu untuk mendapatkan suatu hasil
yang lebih maksimal, dapat mengolah sumber daya dengan baik dan
hemat sehingga dana, waktu dan tenaga tidak banyak terbuang.
15. Makna Filosofis dibalik Komunikasi
Menurut Achmad S. Ruky, komunikasi merupakan proses pemindahan dan
pertukaran pesan, dimana pesan ini dapat berbentuk fakta, gagasan, perasaan,
data atau informasi dari seseorang kepada orang lain. Proses ini dilakukan
dengan tujuan untuk mempengaruhi dan/ atau mengubah informasi yang dimiliki
serta tingkah laku orang yang menerima pesan tersebut. Mernurut Anderson, komunikasi merupakan proses yang dinamis.
Proses ini secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku. Shannon
& Weaver mendefinisikan komunikasi sebagai bentuk interaksi manusia, dimana
secara sengaja maupun tidak disengaja terjadi upaya saling mempengaruhi antara
satu dengan yang lainnya. Bentuk interaksi ini tidak sebatas penggunaan bahasa
verbal, namun juga dalam bentuk ekspresi muka, lukisan, seni, atau teknologi.
a)
Dasar Ontologi Komunikasi
Dalam kajian
ontologis, objek kajian komunikasi adalah intrraksi manusia. Ontologi komunikasi sebagai sesuatu yang terbatas pada
pesan yang segaja diarahkan dan diterima oleh orang lain.
b)
Dasar Epistemologi Komunikasi
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari komunikasi berkaitan dengan persoalan apa yang kita
ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya sehingga pesan yang akan disampaikan dapat diterima dengan jelas dan
akurat. Komunikasi mencakup semua pesan yang bermakna bagi penerima.
c)
Dasar aksiologi
Komunikasi
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat komunikasi dalam kehidupan yaitu mengarahkan
perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang
lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk
belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
16. Makna Filosofis dibalik Kolaborasi
Menurut Kamus Heritage Amerika (2000),
kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran.
Menurut Emily R. Lai kolaborasi adalah keterlibatan bersama dalam upaya terkoordinasi
untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Interaksi
kolaboratif ditandai dengan tujuan bersama, struktur yang simeteris dengan
negosiasi tingkat tinggi melalui intertivitas dan adanya saling ketergantungan.
a)
Dasar Ontologi
Kolaborasi
Dalam kajian
ontologis, objek kajian kolaborasi adalah kerjasama manusia. Ontologi kolaborasi yaitu suatu strategi pembelajaran di mana
para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil
kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu
dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan
yang positif untuk mencapai kesuksesan.
b)
Dasar Epistemologi Kolaborasi
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari kolaborasi berkaitan dengan Belajar kolaboratif menuntut
adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian
informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar
kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk
masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesikan
secara bersama tanpa membedakan percakapan belajar siswa.
c)
Dasar aksiologi
Kolaborasi
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat kolaborasi dalam kehidupan yaitu: Memaksimalkan proses kerjasama yang
berlangsung secara alamiah di antara para siswa, Menciptakan lingkungan pembelajaran
yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama, Menghargai pentingnya keaslian,
kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan
proses belajar, Memberi
kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar, Mendorong eksplorasi bahan pelajaran
yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang, Menghargai pentingnya konteks sosial
bagi proses belajar, Menumbuhkan
hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan
di antara siswa dan guru, dan Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
17. Makna Filosofis dibalik Kemampuan Pemacahan Masalah
Pemacahan
Masalah (Problem
solving) diartikan sebagai suatu proses
mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data
dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan
cermat. Problem Solving, menurut istilah adalah proses penyelesaian suatu
permasalahan atau kejadian, upaya pemilihan salah satu dari beberapa alternatif
atau option yang mendekati kebenaran dari suatu tujuan tertentu Hakikat
pemecahan masalah (problem solving) adalah seseorang mengahadapi situasi yang
harus memberi respons, tetapi tidak mempunyai informasi, konsep-konsep,
prinsip-prinsip dan cara-cara yang dapat dipergunakan dengan segera untuk
memperoleh pemecahan. (Slameto : 144). Aliran filsafat dari pemecahan masalah adalah
progesivisme. Aliran pemecahan masalah dapat diartikan secara umum sebagai aliran yang menginginkan
kemajuan-kemajuan secara cepat.
a)
Dasar Ontologi
Kemampuan Pemacahan Masalah
Dalam kajian
ontologis, objek kajian kemampuan pemacahan masalah adalah pengetahuan manusia. Memecahkan masalah, dan mengahsilkan sesuatu yang baru adalah
kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang lain. Suatu
masalah umumnya tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir, dan banyak masalah
memerlukan pemecahan yang baru bagi orang-orang atau kelompok. Sebaliknya,
menghasilkan sesuatu (benda-benda, gagasan-gagasan) yang baru bagi seseorang,
menciptakan sesuatu, itu mencakup pemecahan masalah.
b)
Dasar Epistemologi Kemampuan
Pemacahan Masalah
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari kemampuan
pemacahan masalah
berkaitan dengan proses penyelesaian suatu permasalahan atau kejadian, upaya
pemilihan salah satu dari beberapa alternatif atau option yang mendekati kebenaran dari
suatu tujuan tertentu..
c)
Dasar aksiologi
Kemampuan Pemacahan Masalah
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat kemampuan pemacahan masalah dalam kehidupan
yaitu: Mengembangkan kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah-masalah serta mengambil keputusan secara obyektif dan
rasional, Mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, logis dan analitis, Mengembangkan sikap toleransi
terhadap orang lain serta sikap hati-hati dalam mengemukakan pendapat, dan Memberikan pengalaman proses dalam menarik
kesimpulan bagi siswa.
18. Makna Filosofis dibalik Pengukuran
Menurut Cangelosi (1995: 21)
pengukuran adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris yang
digunakan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah
ditentukan. Menurut
Wiersma & Jurs (1990) pengukuran adalah penilaian numerik pada fakta-fakta
dari objek yang hendak diukur menurut kriteria atau satuan-satuan tertentu. Hopkins dan Antes (1990)
mengartikan pengukuran sebagai “suatu proses yang menghasilkan gambaran berupa
angka-angka berdasarkan hasil pengamatan mengenai beberapa ciri tentang suatu
objek, orang atau peristiwa. Jadi, Pengukuran (measurement) adalah suatu kegiatan yang
dilakukan untuk menentukan fakta kuantitatif dengan membandingkan sesuatu
dengan satuan ukuran standar yang disesuaikan sesuai dengan objek yang akan
diukur. Pengukuran dalam bidang pendidikan
berarti mengukur atribut atau karakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal
ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi karakteristik atau
atributnya. Aliran filsafat dari pengukuran adalah empirisme dan
realisme.
a)
Dasar Ontologi
Pengukuran
Dalam kajian
ontologis, objek kajian pengukuran adalah pengetahuan manusia. Pengukuran dalam
pendidikan berladaskan pada komptensi yang dimiliki oleh siswa.
b)
Dasar Epistemologi Pengukuran
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari pengukuran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menentukan
fakta kuantitatif dengan membandingkan sesuatu dengan satuan ukuran standar
yang disesuaikan sesuai dengan objek yang akan diukur.
c)
Dasar Aksiologi
Pengukuran
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat pengukuran dalam kehidupan yaitu: Mendapatkan hasil perbandingan atau
nilai yang diperoleh ketika pengukuran tersebut selesai dilakukan dan untuk membandingkan sesuatu dengan satu ukuran
yang serupa.
19. Makna Filosofis dibalik Penilaian
Menurut NSW Departement of Education (1996:324) Penilaian merupakan proses
mengumpulkan fakta-fakta dan membuat keputusan mengenai kebutuhan siswa,
kekuatan, kemampuan, dan kemajuannya. Penilaian merupakan proses sistematika dalam mengumpulkan
data seseorang anak yang fungsinya untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang
dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan dalam menentukan apa yang
sesungguhnya dibutuhkan (James
A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis (1994). Aliran filsafat dari pengukuran adalah
empirisme dan realisme.
a)
Dasar Ontologi
Penilaian
Dalam kajian
ontologis, objek kajian penilaian adalah pengetahuan manusia. Penilaian memberikan informasi lebih
konprehensif dan lengkap dari pada pengukuran, sebab tidak hanya mengunakan
instrument tes saja, tetapi juga mengunakan tekhnik non tes lainya. Penilaian
adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan
kriteria baik buruk dan bersifat kualitatif. Hasil penilaian sendiri walaupun
bersifat kualitatif, dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam
kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).
b)
Dasar Epistemologi Penilaian
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari penilaian berkaitan dengan proses pengumpulan berbagai
data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa, menjelaskan dan
menafsirkan hasil pengukuran (kuantifikasi suatu objek, sifat, perlaku dll),
menggambarkan informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau
ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa.
c)
Dasar Aksiologi
Penilaian
Aksiologi menyangkut masalah nilai
kegunaan ilmu. Manfaat penilaian dalam kehidupan yaitu mengetahui apakah peserta didik mampu atau tidak dalam pembahasan materi dan untuk menetapkan hasil akhir guna mengetahui apakah
peserta didik tersebut sudah mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan
sebelumnya.
20. Makna Filosofis dibalik Evaluasi
Istilah evaluasi sudah menjadi kosa kata dalam
bahasa Indonesia, akan tetapi kata ini adalah kata serapan dari bahasa Inggris
yaitu evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (Echols dan Shadily,
2000 : 220). Sedangkan menurut pengertian istilah
“evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu
obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur
untuk memperoleh kesimpulan” (Yunanda : 2009). Aliran filsafat dari pengukuran adalah
empirisme dan progesivisme.
a)
Dasar Ontologi
Evaluasi
Dalam kajian
ontologis, objek kajian evaluasi adalah pengetahuan manusia. Evaluasi merupakan
proses yang sistematis dan
berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan
menyajikan informasi tentang suatu program untuk dapat digunakan sebagai dasar
membuat keputusan, menyusun kebijakan maupun menyusun program selanjutnya
b)
Dasar Epistemologi Evaluasi
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara
memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari evaluasi berkaitan dengan kegiatan atau upaya yang meliputi pengukuran dan
penilaian yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan (program,
produksi, prosedur). Untuk selanjutnya hasil dari kegiatan atau upaya tersebut
digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi.
c)
Dasar Aksiologi
Evaluasi
Aksiologi
menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat evaluasi dalam kehidupan yaitu untuk mengetahui apakah peserta
didik berhasil mencapai tujuan belajar, memahami suatu konsep dengan menjawab
beberapa soal, mampu mengaplikasikan konsep-konsep, dan mampu memecahkan sebuah
masalah-masalah yang ada
No comments:
Post a Comment